PENYUCIAN DIRI SEJATI

Panjul menyambangi Kakeknya Ki Panji mendiskusikan tentang Penyucian Diri. Di Piasan pura Ki Panji lalu Panjul bertanya:

Panjul: Om Swastyastu Kek. Apa itu hakekat Penyucian Diri. Apa Tujuan kita menycikan diri. Bagaimana Caranya menyucikan diri. Lalu apa Ukuran atau tanda-tanda diri Orang Suci?

Ki Panji: Panjul cucuku..Pertanyaan mu Komplit sekali. Baiklah kakek senang kamu bertanya. Artinya pikirannya selalu berkembang.
Penyucian diri maknanya ada di Bab V sloka 11 Bhagavad Gita. Penyucian diri adalah Pembersihan diri dari segala ikatan. Hakekat Penyucian diri adalah pembebasan diri dari Keterikatan.

Panjul: Oh.. Itu ya kek. Menyucikan diri sederhana tapi susah. Susah melepaskan ikatan pikiran dengan obyek duniawi.

Ki Panji: ya Panjul… Itulah makna Penyucian Diri. Bagaimana berjuang melepaskan ikatan pikiran dengan obyek duniawi. Bagaimana bertindak secara cerdas hanya untuk persembahan Hyang Widhi. Kelima Indria sudah terkuasai dan terkendali sepenuhnya di bawah pikiran dan kesadaran budhi.

Panjul: Lalu apa Tujuan penyucian diri kek?

Ki Panji: Penyucian diri adalah tugas dan kewajiban semua orang tanpa kecuali. Mengapa demikian? Kelahiran manusia melalui Reinkarnasi tujuan utamanya adalah menyatu dengan Brahman. Brahman yang bersifat suci bisa diraih hanya jika Atman kita setelah kematian memiliki kesucian. Jadi tujuan menyucikan diri adalah menyiapkan modal bekal menyatu dengan Brahman.

Panjul: Faham kek. Menyucikan diri wajib bagi Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Betul begitu Kek.

Ki Panji: Betul cucuku Panjul. Apapun warna yang dipegang oleh seseorang wajib hukumnya melakukan penyucian diri. Bagi kaum Sudra menyucikan diri dilakukan dengan cara bekerja menjadi pelayan super hebat yang senantiasa memuaskan orang yang dilayani. Itupun dilakukan karena kesadaran berbhakti kepada Tuhan sebagai pelayan. Memuja Tuhan dalam segala tindakan Pelayanan. Dalam Pikirannya selalu ada pikiran melayani kepada siapapun tanpa pilih kasih, pilih bulu, pilih warna kulit, nama dsb.

Baca juga :   Metatah atau Potong Gigi

Panjul: Lalu bagaimana caranya menyucikan diri Kek?

Ki Panji: Gunakan kecerdasan, gunakan pikiran, gunakan badan untuk bertindak atas nama bhakti kepada Sang Hyang Widhi. Sadari dan pikirkan bahwa tujuan kelahiran kedunia ini adalah menyempurnakan kesucian. Tujuan atman lahir mengambil badan adalah menyucikan diri. Ini adalah prinsip utamanya. Menyucikan diri tidak harus me dwi jati jadi Sulinggih. Tidak demikian konsepnya. Menyucikan diri adalah Melepaskan diri dari Ikatan. Menyucikan diri sering disebut belajar Ilmu Pelepasan. Pelepasan dari Keterikatan. Oleh karenanya orang yang menjalani Dwi jati ada proses mati raga yang maknanya mematikan keterikatan pikiran dan panca indria dengan obyek2 duniawi.

Panjul: Oh ya kek. Apapun warna yang dijalani oleh umat Hindu punya hak dan kesempatan sama dalam menyucikan diri. Ibu rumah tangga menyucikan diri dengan cara menjalankan semua kewajiban sebagai ibu bagi anak-anaknya, sebagai ibu keluarga besarnya, sebagai ibu masyarakatnya dengan cara selalu mengabdikan badannya dalam tindakan pengabdian tanpa keterikatan. Dapat menyayangi anak yang dilahirkan, menyayangi keponakan, menyayangi seluruh anak di lingkungannya dengan kasih sayang yang sama. Apa begitu kek.

Ki Panji: Betul sekali Panjul. Seperti seorang Guru atau dosen dalam menghadapi siswa atau mahasiswanya selalu memandang sama untuk semua anak tanpa membedakan asal daerahnya, sukunya, agamanya, orang tua yang melahirkannya. Guru mendidik dengan kasih yang sama dan sayang untuk semua. Melihat dalam diri siswa ada jiwa Atman yang sama dalam bungkus badan yang berbeda.

Panjul: Lalu apa ciri Orang Suci

Ki Panji: Ciri pokok Orang Suci ada satu yaitu: Bebas dari segala bentuk Keterikatan Duniawi.
Ciri lainnya:

  1. Melakukan apapun melalui tindakan pikiran dan badannya ditujukan hanya untuk bhakti.
  2. Berbusana tindakan pengabdian.
  3. …. Cari sendiri
Baca juga :   Bhakti, Parama Prema Bhakti dan Prapatti Bhakti

Panjul: Ha ha ha Kakek lucu. Nomor 3 disuruh cari sendiri. Baik saya cari nanti ya kek. Nanti saya tanya Ki Guna di Kepuh. Jadi Ciri orang Suci tidak cukup dilihat dari putihnya Baju dan busana yang dikenakan. Tetapi:
Putihnya pikiran, putihnya ucapan, putihnya tindakan yang dijalankan secara cerdas menggunakan budhi atau kecerdasan mengabdi pada Sang Tunggal Atman yang mersemayam dalam diri masing-masing
Terimakasih Kek…
Om Shanti Shanti Shanti Om.

Namaskar

Ki Panji
SHJ

Please follow and like us:
fb-share-icon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *