Menu Close

ABHISEKA SIWALAYA SAMAPTA DIWYOTTAMA 1.164 CANDI PRAMBANAN

Ritual Abhiseka tahun ini adalah yang  ke – 2 dan akan menjadi agenda rutin tahunan setiap tanggal 12 November.

Abhiseka dari Bahasa Sansekerta yang berarti memandikan Beliau yang dipuja, secara harafiah abhiseka adalah memandikan arca atau manusia agar meningkat spiritualnya. Dalam konteks Abhiseka Candi Prambanan, artinya adalah pensucian kembali arca – arca yang di stanakan didalam Candi Prambanan agar memancarkan kembali aura kesucian yang memberikan kedamaian bagi alam sekitarnya juga bagi setiap orang yang datang.

Candi Prambanan sendiri diresmikan pada tanggal 12 November 856 M. Pada tahun 1006 ditinggalkan masyarakat pendukungnya dan ditemukan kembali oleh CA Lons pada tahun 1733. Presiden Sukarno meresmikan Candi Prambanan pada tahun 1953 dan pertama kali digunakan oleh umat Hindu pada tahun 1968. Candi Prambanan kembali aktif digunakan oleh umat Hindu pada tahun 1992 untuk kemudian diresmikan kembali oleh Presiden Suharto pada tahun 1993.

Acara Abhiseka Prambanan ini adalah kerja sama antara PHDI Sleman, PHDI Klaten, Umat Hindu dan PT TWC dengan cangkupan kegiatan Religi, Culture and Tourism.

Dikarenakan situasi pandemi saat ini, acara kali ini tidak terbuka untuk seluruh umat. Hanya panitia dan tamu undangan yang bisa mengikuti acara yang mematuhi protokol kesehatan. Mulai dari registrasi, cek suhu badan dan mencuci tangan sebelum memasuki area candi.

Peserta (termasuk tamu undangan dan crew) jumlahnya kurang lebih 80 orang. Dihadiri juga oleh Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama R I Bapak Dr. Tri Handoko Seto, S.Si., M.Sc, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag DIY dan Jateng, Ketua PHDI DIY dan Jateng dan lain-lain.

Rangkaian Upacara pada hari Kamis tanggal 12 November 2020 dimulai setelah jam 16 WIB yaitu saat jam berkunjung selesai jadi area candi sudah steril dari pengunjung.

Grup Serati sudah masuk jam 15 untuk menyiapkan sesaji. Upacara Abhiseka Prambanan dipimpin oleh Rsi Sujiwo Telabah Tri  (Klaten) dan Sire Empu Giri Natha (Sleman), serta dipandu oleh MC Bapak Mangku Marwoto.

Pukul 16 tim Bleganjur menjemput Lingga Yoni dengan menggunakan singhasana garuda dan membunyikan music di samping pos satpam BPCB. Sayangnya Bleganjur (gamelan Bali) ini hanya boleh sampai di pos satpam saja, tidak boleh masuk ke area Candi (penulis menduga mungkin khawatir getaran gamelan bisa merusak candi).

Sesudah arak-arakan masuk ke area Candi,  Lingga Yoni diletakkan di bawah Candi Siwa,  dilanjutkan dengan Persiapan Sulinggih menempati Sasana Upacara, Ngargo Tirto (Pembuatan Tirta Lengkap), Ngaturan Banten Caru/ Segahan Agung, Pensucian Banten Biokaon, Durmanggala dan Prayascita kemudian prosesi pensucian ke semua Candi dengan banten.

Daksino Linggih diawali dengan Prosesi Pradaksina. Arak-arakan mengelilingi Candi Siwa sebanyak tiga kali. Bersamaan dengan Pradaksina Tari Siwa Ardhanareswari karya Didi Nini Thowok sendiri mulai ditarikan di depan Candi Siwa. Kemudian Daksino Linggih diletakkan di dalam Candi Siwa.

Acara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama Tri Sandya dan Muspa dan ditutup dengan puncak acara/ritual inti abhiseka  yaitu Menusuk Sima yang dilakukan secara simbolis memecah telur di Lingga Yoni. Menusuk Sima ini dilakukan oleh: 2 Pendeta, Dirjen, Pembimas DIY dan Jateng, PHDI  DIY dan Jateng, PHDI Klaten dan Sleman, Penyelenggara Bimas Klaten, dan ketua Panitia.

Sesudah upacara ritual selesai dilanjutkan dengan Dharmawacana oleh bapak Dr. Tri Handoko Seto, S.Si., M.Sc yang diantaranya beliau menyampaikan pesan ke pengelola Candi Prambanan agar umat bisa lebih sering mengadakan upacara-upacara keagamaan  (misalnya Purnama, Tilem) di Prambanan dan saling bersinergi dengan pengelola wisata Candi Prambanan agar akan semakin banyak didatangi oleh umat bukan hanya dari Nusantara tapi seluruh dunia sehingga bisa membangkitkan ekonomi setempat sebagai tempat wisata religi dunia.

Candi Prambanan adalah salah satu simbol indah dan megahnya peradaban Hindu di tanah Jawa yang juga sudah diakui oleh dunia. Pada tahun 1991 UNESCO menetapkannya sebagai warisan budaya. Status Cagar Budaya Nasional juga sudah ditetapkan.

Warisan Adiluhung ini hendaknyalah dilestarikan dan dijaga baik secara spiritual maupun fisik agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Rahayu.

Please follow and like us:
Posted in Kegiatan Parisada, Kegiatan Umat

1 Comment

  1. I Ketut Triono

    Om Swastyastu! Semoga alam semakin damai! Mari kita rawat alam ini dengan kerendahan hati dan kesucian jiwa! Swaha Om

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: