Menu Close

Mengintip Kegiatan PHDI Kota Yogyakarta Membina Generasi Muda Hindu

Hindujogja.com 23/10/2021. Hasil yang baik diperoleh dari proses yang baik dan benar, demikian pun putra (anak) yang baik diperoleh dari proses yang baik dan benar sebagaimana yang diajarkan dalam sastra weda. Dimulai dari pemahaman yang benar tentang apa itu perkawinan dan tujuannya, lalu memilih pasangan yang baik, upacara perkawinan yang berlandaskan pada ajaran weda, melakukan seluruh rangkaian manusa yadnya (Garbhadhana) dan membekali anak-anak dengan pengetahuan weda sebagai panduan hidup mereka, tentu ini terlepas dari karma wasana masing-masing yang merupakan hal diluar jangkauan kita.

Mendasarkan pada Manawa Dharmasastra IX.138: “Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan), oleh karena itu ia disebut Putra”. Penjelasan yang sama juga dapat kita jumpai dalam Àdiparva Mahàbhàrata 74, 27, juga dalam Valmiki Ramayana II,107-112. Kelahiran Putra Suputra ini merupakan tujuan ideal dari setiap perkawinan. Kata yang lain untuk putra adalah sùnu, àtmaja, àtmasaýbhava, nandana, kumàra dan saýtàna. Kata yang terakhir ini di Bali menjadi kata sentana yang berarti keturunan. Hal ini dapat dilihat dalam Adiparwa, 74 & 38 sebagai berikut: “Seseorang dapat menundukkan dunia dengan lahirnya anak, ia memperoleh kesenangan yang abadi, memperoleh cucu-cucu dan kakek-kakek akan memperoleh kebahagiaan yang abadi dengan kelahiran cucu-cucunya”. 

Agama Hindu memandang perkawinan sebagai suatu jalan untuk melepaskan derita orang tuanya, apabila mereka sudah meninggal dunia. Justru, perkawinan dalam agama Hindu dipandang sebagai suatu Dharma (kewajiban) yang bertujuan untuk memperoleh anak sebagai jalan untuk  menebus hutang (Rna) (Referensi Buku : Ni Wayan Suratmini, dkk, Agama Hindu, edisi II GANECA, Jakarta Selatan, 2003 hal.6). 

Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra dijelaskan bahwa perkawinan bersifat religius (sacral) dan hukumnya wajib. Dihubungkan dengan kewajiban seseorang agar mempunyai keturunan untuk menebus segala dosanya dan karena itu, apabila seorang umat Hindu tidak melaksanakan wiwaha maka ia tidak akan mendapatkan doa apabila ia sudah meninggal ( Referensi Buku :Departemen agama RI, Pedoman, Penyuluhan Dan Motivasi KKB Menurut Agama Hindu, Jakarta 1983 hal.11)

Atas beberapa dasar tersebut diatas, maka PHDI Kota Yogyakarta melakukan kegiatan pembinaan yang menyasar generasi muda Hindu dari tingkat SLTA sampai dengan Mahasiswa dan muda mudi belum menikah di wilayah kota Yogyakarta dengan tema pendidikan Pra Nikah.

Selain memberikan wawasan tentang pernikahan menurut Agama Hindu, pembinaan juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga menjadi umat Hindu, mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka tentang ajaran Agama Hindu serta bagaimana agar mereka tetap percaya diri mempertahankan agama Hindu meski memiliki pacar yang non Hindu. 

Sudah banyak yang terkonversi mengikuti agama pasangannya karena mereka tidak percaya diri untuk tetap bertahan disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang ajaran agamanya yaitu Agama Hindu, maka Kami sebagai pengurus PHDI Kota merasa berkewajiban untuk membekali mereka tentang Ajaran Agama Hindu. Dari kuesioner yang kami sebar mayoritas mereka menyampaikan bahwa sekarang mereka lebih percaya diri dengan Agama yang mereka anut, mereka mulai memahami bahwa ajaran Hindu begitu mulia dan sangat lengkap dijadikan sebagai tuntunan hidup. Kami juga membentuk komunitas group pemuda Hindu kota Yogyakarta sebagai ajang mereka untuk beranjangsana, bertukar pikiran dan pengetahuan serta menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka tidak sendiri.” Demikian yang disampaikan oleh Ketut Sandiada, S.Sos. selaku Ketua PHDI Kota Yogyakarta. 

Hadir sebagai narasumber AKBP Purn. I Nengah Lotama S.Ag salah satu tokoh Agama Hindu di Yogyakarta yang banyak terlibat dalam berbagai kegiatan umat Hindu Yogyakarta. Memberikan penguatan kepada generasi muda Hindu agar teguh pada srada dan bhaktinya sebagai generasi muda Hindu, serta berbagi pengalaman dan perjalanan hidup Beliau sebagai umat Hindu.

Narasumber kedua Komang Mahadewi Sandiasih, M.Psi.,Psi. seorang Psikologi muda yang memberikan penguatan pada level mindset dengan menghadirkan berbagai permainan, membangun keakraban sesama generasi muda Hindu, membangun rasa percaya diri bahwa kuantitas bukanlah segalanya, namun tetap menjadi berkualitas meski pun minoritas.

Ketut Sandiada menyampaikan, bahwa acara ini terselenggara atas pendanaan Bimas Hindu D.I. Yogyakarta. (MadeSumiarta)

Please follow and like us:
Posted in Berita, Kegiatan Parisada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *