Bhagavad Gita BAB 1
Dhṛtarāṣṭra sebagai Akar Konflik Bharatayuddha
Abstrak
Artikel ini membahas dimulainya Bhagavad Gītā dengan pernyataan Raja Dhṛtarāṣṭra yang buta secara jasmani maupun batin. Kebutaan Dhṛtarāṣṭra tidak hanya berupa kekurangan fisik, tetapi juga ketidakmampuan moral dan spiritual untuk membedakan dharma dari adharma. Kelemahan ini diperparah oleh kesetiaan palsu Gāndhārī, istrinya, serta kegagalannya mendidik Duryodhana sesuai prinsip etika. Melalui pendekatan filosofis dan tekstual, artikel ini menunjukkan bahwa kebutaan Dhṛtarāṣṭra menjadi faktor fundamental penyebab pecahnya perang Bharatayuddha.
File PPT dapat di Download disini : Bhagavad-gita BAB 1
1. Pendahuluan
Bhagavad Gītā, bagian dari Mahābhārata, dimulai dengan pertanyaan Dhṛtarāṣṭra kepada penasihatnya, Sañjaya. Pemilihan narasi ini memiliki makna simbolis mendalam. Bukan kebetulan bahwa kitab yang mengajarkan pencerahan spiritual dibuka oleh seorang raja buta. Hal ini menjadi kritik terhadap kepemimpinan yang tidak berlandaskan dharma.
Sloka pembuka berbunyi:
धृतराष्ट्र उवाच | धर्मक्षेत्रे कुरुक्षेत्रे समवेता युयुत्सवः ।
मामकाः पाण्डवाश्चैव किमकुर्वत सञ्जय ॥ १.१ ॥
(dhṛtarāṣṭra uvāca | dharmakṣetre kurukṣetre samavetā yuyutsavaḥ,
māmakāḥ pāṇḍavāś caiva kimakurvata sañjaya || 1.1)
Kata māmakāḥ (putra-putraku) menunjukkan eksklusivitas dan keterikatan buta Dhṛtarāṣṭra kepada anak-anaknya, menyingkirkan identitas Pandava sebagai bagian dari keluarganya.
2. Kebutaan Jasmani dan Batin Dhṛtarāṣṭra
Buta Jasmani: Kekurangan fisik yang nyata sejak lahir.
Buta Batin: Ketidakmampuan moral untuk berpihak pada dharma. Ia tahu Pandava berada di pihak kebenaran, tetapi ia tetap mendukung Duryodhana.
Bhagavad Gītā menyinggung kondisi batin seperti ini:
असुरं भावमाश्रित्य प्रभवन्त्युग्रकर्मणः ।
मोहाद्गृहीत्वासद्ग्राहान्सदा जन्मनि जन्मनि ॥ (BG 16.4)
Artinya, mereka yang terikat moha (keterikatan buta) akan terus terjerumus dalam tindakan adharma dari kehidupan ke kehidupan.
3. Peran Gāndhārī: Kesetiaan yang Salah Arah
Gāndhārī, sebagai istri, memiliki kesempatan menjadi penunjuk kebenaran bagi Dhṛtarāṣṭra. Namun ia memilih menutup matanya dengan kain penutup demi kesetiaan simbolis. Tindakan ini mencerminkan blind loyalty atau kesetiaan buta yang justru memperkuat kelemahan suaminya. Dalam perspektif etika Hindu, kesetiaan seharusnya diarahkan pada dharma, bukan pada individu.
4. Perspektif Pendidikan Moral menurut Rsi Cāṇakya
Rsi Cāṇakya menegaskan pentingnya pendidikan moral yang disiplin:
lālane bahavo doṣāḥ tāḍane bahavo guṇāḥ ।
tasmāt putraṁ ca śiṣyaṁ ca tāḍayen na tu lālayet ॥
Artinya, terlalu memanjakan anak melahirkan keburukan, sementara disiplin melahirkan kebaikan. Dhṛtarāṣṭra gagal menanamkan nilai moral pada Duryodhana. Akibatnya, anak yang seharusnya menjadi penerus justru menjadi musuh bagi orang tuanya dan pemicu perang.
5. Kebutaan Dhṛtarāṣṭra sebagai Penyebab Bharatayuddha
Beberapa faktor menunjukkan bahwa perang besar berakar dari kelemahan Dhṛtarāṣṭra:
Buta terhadap dharma: Ia tahu Pandava benar, tetapi tetap berpihak pada Duryodhana.
Buta terhadap keadilan: Ia membiarkan pelecehan Draupadī di istana.
Buta terhadap nasihat bijak: Ia mengabaikan peringatan Vidura, Bhīṣma, bahkan Śrī Kṛṣṇa.
Dengan demikian, perang Bharatayuddha adalah konsekuensi logis dari kepemimpinan yang tidak berlandaskan dharma.
6. Implikasi Filosofis dan Etis
Kasus Dhṛtarāṣṭra relevan untuk konteks modern:
Dalam kepemimpinan: Seorang pemimpin yang buta hati dapat menghancurkan negara.
Dalam keluarga: Orang tua yang hanya memanjakan anak tanpa disiplin menciptakan generasi yang rapuh secara moral.
Dalam spiritualitas: Kesetiaan buta pada orang atau kelompok harus digantikan dengan kesetiaan pada dharma.
7. Kesimpulan
Pemilihan Dhṛtarāṣṭra sebagai tokoh pembuka Bhagavad Gītā adalah simbolis dan filosofis. Kebutaan fisik dan batinnya menjadi cermin dari kepemimpinan yang gagal, pendidikan anak yang keliru, serta kesetiaan yang salah arah. Semua faktor ini berkontribusi pada pecahnya perang Bharatayuddha. Dengan demikian, pesan utama dari bagian awal Bhagavad Gītā adalah peringatan terhadap bahaya keterikatan buta dan kebutuhan untuk menegakkan dharma dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun negara.






