Menjaga Semangat Kebersamaan, WHDI DPD DIY Gelar Pertemuan Rutin di Kawasan Candi Kedulan

SLEMAN — Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggelar acara pertemuan rutin pada Minggu, 24 Mei 2026. Berbeda dari biasanya, pertemuan kali ini dikemas dengan suasana yang lebih segar dan santai, bertempat di Kawasan Warisan Budaya Candi Kedulan, Kalasan, Sleman.

Bertindak sebagai tuan rumah, WHDI Kabupaten Sleman sukses menyuguhkan perpaduan antara nuansa spiritual, edukasi, dan keceriaan antaranggota.

Awali Hari dengan Persembahyangan Bersama

Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari, di mana seluruh pengurus dan anggota WHDI yang hadir melaksanakan persembahyangan bersama di Mandala Utama Candi Kedulan. Di bawah rimbunnya area situs bersejarah tersebut, lantunan doa mengalun khidmat, memohon kerahayuan serta kelancaran bagi seluruh program kerja organisasi ke depan.

Setelah prosesi ibadah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan acara seremonial yang berlangsung hangat di area sekitar candi.

Peran Utama Perempuan dan Semangat Kebersamaan

Dalam sambutan pembuka, Ketua WHDI Kabupaten Sleman, Ibu Iriani, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas kehadiran para anggota dari seluruh penjuru DIY. Beliau juga mengingatkan kembali pentingnya peran perempuan dalam ranah domestik maupun sosial.

“Ibu-ibu memegang peran utama dalam mencerdaskan anak-anak dan menjaga ketahanan keluarga. Di tangan ibulah generasi masa depan dibentuk,” ujar Ibu Iriani menekankan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua WHDI Provinsi DIY, Nyoman Trisnawati, menjelaskan bahwa pertemuan rutin kali ini sengaja dikemas secara santai tanpa seremonial yang panjang lebar. Langkah ini diambil demi menjaga esensi pertemuan, yaitu memupuk semangat kebersamaan.

Menariknya, acara kali ini juga dihadiri oleh tamu spesial. Nyoman Trisnawati berkesempatan memperkenalkan Ketua dan Wakil Ketua WHDI Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang turut hadir. Kehadiran pengurus WHDI NTB ini membawa misi khusus, yaitu studi banding. Mereka tertarik untuk belajar langsung dari WHDI Jogja mengenai strategi dan cara-cara efektif yang telah dilakukan dalam menekan angka stunting (tengkes) di masyarakat.

Baca juga :   Dharma Tula ke-2: Merangkai Harmoni dalam Memayu Hayuning Bawono di Yogyakarta

Mengupas Makna Pengorbanan Lewat Tembang Semorodono

Acara inti keagamaan diisi dengan penyampaian Dharma Wacana oleh Pembimas Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Didik Vidya Putra. Beliau membawakan materi mendalam seputar kehidupan rumah tangga dengan mengupas filosofi Tembang Semorodono (Asmaradana).

Dalam paparannya, Didik Vidya Putra menjelaskan secara gamblang tentang esensi pengorbanan yang harus dilakukan oleh sepasang suami-istri demi membangun fondasi keluarga yang kokoh, harmonis, dan sejahtera sesuai ajaran Dharma.

Kemeriahan Lomba dan Ramah Tamah

Untuk mencairkan suasana dan memupuk sportivitas, pertemuan rutin ini juga dimeriahkan dengan berbagai perlombaan antarkabupaten/kota:

  • Lomba Membuat Buket: Berhasil dimenangkan oleh tuan rumah, WHDI Kabupaten Sleman, yang tampil memukau lewat kreativitas merangkai bunga.
  • Lomba Line Dance: Membawa kemeriahan tersendiri dengan gerakan-gerakan enerjik, di mana piala kemenangan berhasil diboyong oleh WHDI Kabupaten Gunungkidul.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan sesi ramah tamah. Para peserta menikmati makan siang bersama sembari saling bertukar cerita, mempererat tali silaturahmi yang telah terjalin erat di antara para Wanita Hindu di bumi Mataram.

Please follow and like us:
fb-share-icon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *