Perkuat Sinergitas dan Kearifan Lokal, Pengurus SBI Gelar Sosialisasi Pascapelantikan Korwil DIY

BANGUNTAPAN – Pengurus Sarathi Banten Indonesia (SBI) Korwil Yogyakarta menggelar kegiatan sosialisasi keorganisasian yang bertempat di Gedung Santi Sasana, Pura Banguntapan, Bantul, DIY, pada Sabtu (23/5/2026). Acara strategis ini dilaksanakan langsung setelah prosesi pelantikan jajaran Pengurus Sarathi Banten Koordinator Wilayah (Korwil) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kupas Sejarah, Visi, dan Misi SBI

Dalam sesi awal, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Sarathi Banten Indonesia Pusat, Ny. I Gusti Ayu Putu Aryani, memaparkan materi mengenai sejarah singkat, visi, serta misi organisasi. Organisasi yang awalnya berdiri pada 27 April 2005 di TMII Jakarta dengan nama Sarathi Banten Jabodetabek ini, kini telah bertransformasi secara legalitas menjadi Sarathi Banten Indonesia (SBI) yang terdaftar resmi di Kementerian Agama serta Kemenkumham RI.

Ny. I Gusti Ayu Putu Aryani menegaskan visi utama SBI, yaitu mewujudkan Sarathi yang profesional, berintegritas tinggi, memiliki spiritual tangguh, sejahtera, dan berbahagia (Jagadhita) yang bersumber pada Pustaka Suci Weda. Jalannya pemaparan materi dan diskusi ini berlangsung interaktif dan dipandu oleh Moderator Ni Nyoman Trisnawati, yang juga menjabat sebagai Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) DIY.

Menghargai Local Genius dan Prinsip Satu Komando

Ketua Umum Sarathi Banten Indonesia Pusat, Ny. Ni Wayan Wartiniasih, memberikan penegasan penting dalam arahannya. Beliau meluruskan bahwa meskipun pedoman yang digunakan dominan bersumber dari tradisi Hindu Bali, keberadaan SBI sama sekali bukan bentuk “Balinisasi” umat Hindu di Indonesia.

“Kita tetap mengadopsi local genius dan kearifan lokal di setiap daerah, seperti tradisi Jawa, Sunda, Kaharingan, dan tradisi luhur lainnya,” ujar Ni Wayan Wartiniasih.

Selain itu, beliau memaparkan konsep “Satu Komando” demi menjaga keharmonisan umat saat pelaksanaan upacara Yadnya. Ketika sebuah pura menyelenggarakan piodalan dan telah menunjuk Ketua Sarathi untuk upacara tersebut, maka seluruh pihak wajib mengikuti keputusan ketua yang telah ditunjuk. Hal ini krusial agar tidak ada lagi yang membawa kebiasaan atau ego kelompok masing-masing yang berpotensi menimbulkan konflik di lapangan.

Baca juga :   Prajaniti DIY diskusi kebinekaan bersama GBI

Semangat Ngayah dan Kesiapan Pewintenan

Sementara itu, Ketua Sarathi Banten Korwil DIY terpilih, Ketut Siti Artini, dalam pemaparannya mengajak seluruh jajaran pengurus yang baru dilantik untuk mengawali swadarma ini dengan semangat ngayah (sewanam), tulus ikhlas, dan rasa pengabdian yang mendalam.

Terkait salah satu syarat mutlak menjadi seorang Sarathi Banten, yaitu telah melaksanakan upacara penyucian diri atau pewintenan, Ketut Siti Artini memberikan solusi praktis bagi para pengurus dan umat di DIY.

“Prosesi pewintenan dapat dilakukan di pura masing-masing pada saat pelaksanaan piodalan. Silakan sampaikan dan koordinasikan kepada para penyungsung (pengelola/pamong) pura masing-masing bahwa kita berniat melakukan pewintenan sebagaimana yang disyaratkan untuk menjadi seorang Sarathi,” pungkasnya.

Acara sosialisasi ini berjalan dengan khidmat, lancar, dan ditutup dengan sesi foto bersama serta komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan upakara dan upacara Yadnya di wilayah DIY.

Materi Paparan : Sejarah Singkat dan Visi Misi

Please follow and like us:
fb-share-icon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *