Umat Hindu Laksanakan Pecaruan Pancasata di Pura Banguntapan Sambut Nyepi Saka 1948
Upacara ini dimanggalai oleh Jero Gede Wasi Achir, sementara kepanitiaan Nyepi 2026 diketuai oleh Gusti Nengah Sutarta. Dalam keterangannya, disampaikan bahwa pecaruan bukan sekadar ritual simbolik, tetapi memiliki makna mendalam dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan niskala.
Struktur dan Isi Pecaruan Pancasata
Pecaruan Pancasata merupakan tingkatan caru yang menggunakan lima jenis sata (hewan kurban simbolis) dengan warna dan arah yang berbeda. Setiap unsur memiliki makna filosofis serta ditujukan kepada manifestasi bhuta kala di penjuru arah mata angin.
Adapun susunan utama dalam Pecaruan Pancasata meliputi:
1. Caru Ayam Putih (Iswara)
Arah: Timur
Dewa Penguasa: Iswara
Makna: Kesucian dan awal kehidupan
2. Caru Ayam Merah (Brahma)
Arah: Selatan
Dewa Penguasa: Brahma
Makna: Energi, kekuatan, dan penciptaan
3. Caru Ayam Kuning (Mahadeva)
Arah: Barat
Dewa Penguasa: Mahadeva
Makna: Kemakmuran dan keseimbangan
4. Caru Ayam Hitam (Wisnu)
Arah: Utara
Dewa Penguasa: Wisnu
Makna: Pemeliharaan dan ketenangan
5. Caru Ayam Brumbun (Siwa)
Arah: Tengah (Pusat)
Dewa Penguasa: Siwa
Makna: Penyatuan seluruh unsur dan keseimbangan kosmis
Makna Khusus Caru Brumbun
Caru Brumbun (ayam dengan warna bulu campuran atau poleng alami) memiliki kedudukan sangat penting dalam Pecaruan Pancasata.
Secara simbolik:
Brumbun melambangkan keseimbangan total, karena terdiri dari berbagai warna yang menyatu dalam satu tubuh.
Ditempatkan di tengah (madya) sebagai pusat energi (pancer), yang menjadi titik temu seluruh arah mata angin.
Dipersembahkan kepada aspek Siwa sebagai penguasa keseimbangan dan pelebur, yang berfungsi menetralisir seluruh kekuatan bhuta kala.
Dengan demikian, caru Brumbun berfungsi sebagai:
Pengharmonisasi utama dari seluruh caru di empat penjuru
Pusat penyucian energi sebelum memasuki perayaan Nyepi
Simbol integrasi antara bhuana alit dan bhuana agung
Tujuan Spiritual dan Sosial
Pelaksanaan Pecaruan Pancasata memiliki beberapa tujuan utama, antara lain:
Menyeimbangkan energi alam (sekala–niskala) agar tercipta harmoni kehidupan
Menetralisir kekuatan negatif (bhuta kala) yang dapat mengganggu manusia
Persiapan menyambut Catur Brata Penyepian dalam kondisi suci lahir dan batin
Memperkuat solidaritas umat dalam semangat menyama braya
Kegiatan ini terselenggara melalui sinergi pengempon Suka Duka Eka Cita Dharma (Tempek Utara) bersama Paguyuban Banguntapan, yang secara gotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian upacara.
Pecaruan Pancasata di Pura Banguntapan tahun ini menjadi momentum penting tidak hanya dalam dimensi ritual, tetapi juga sebagai penguatan kesadaran spiritual dan kebersamaan umat Hindu dalam menjaga keseimbangan alam semesta menjelang Nyepi Saka 1948.







