Parisudha Agung Paripurna Prambanan, Simakrama PHDI Bahas Pendidikan dan Persatuan Umat Hindu

PRAMBANAN — Upacara Parisudha Agung Paripurna di Sivagrha Candi Prambanan, Rabu (21/10/2026), menjadi momentum penguatan sraddha dan bhakti sekaligus ruang dialog mengenai persoalan umat Hindu. Seusai ritual di Utama Mandala, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan simakrama di Madya Mandala, tepatnya di Lapangan Angsa, yang membahas kekurangan guru agama Hindu, dinamika kelembagaan PHDI, serta upaya memperkuat ketahanan umat.

 

Kegiatan dilaksanakan oleh PHDI Daerah Istimewa Yogyakarta dengan penanggung jawab PHDI Pusat dan diikuti sekitar 300 umat Hindu dari DIY serta Jawa Tengah. Upacara dipimpin oleh Ida Shri Bhagawan Dalem Acarya Mahakerti Wira Jagatmanik bersama Ida Pandita Romo Wiku Satya Telaga.


Hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, Wakil Ketua Umum Wayan Samudra Gina Antara, serta Sekretaris Jenderal I Nyoman Gde Agus Asrama. Kehadiran jajaran pengurus pusat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kepemimpinan baru PHDI kepada umat Hindu di DIY dan Jawa Tengah.

Parisudha Agung Paripurna merupakan bagian dari pemuliaan dan penyucian Candi Prambanan sebagai tempat suci umat Hindu. Pelaksanaannya menindaklanjuti amanat Pesamuhan Agung PHDI Tahun 2023 di Denpasar, Bali, mengenai pemuliaan Candi Prambanan.


Penentuan pelaksanaannya didahului berbagai kajian, termasuk diskusi kelompok terarah atau focus group discussion pada Oktober 2023 di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Kajian tersebut melibatkan ahli arkeologi dan pakar wariga untuk mempertemukan landasan sejarah dengan perhitungan waktu upacara.
Dalam sambutannya, I Nyoman Cantiasa menyampaikan penghargaan kepada panitia, PHDI DIY, serta seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan upacara. Ia mengapresiasi perpaduan sesaji Jawa dan Bali sebagai wujud penghormatan terhadap kearifan lokal dalam pelaksanaan ritual Hindu. Cantiasa juga mengajak umat menjadikan persembahyangan sebagai sarana memperkuat sraddha dan bhakti serta menumbuhkan sifat-sifat kebaikan dalam menjalankan swadharma di tengah kehidupan masyarakat.

Baca juga :   Audiensi Panitia Nyepi degan PT. TWC

 

Simakrama di Lapangan Angsa
Setelah persembahyangan di Utama Mandala selesai, kegiatan berlanjut dengan simakrama di Lapangan Angsa, kawasan Madya Mandala Candi Prambanan. Pertemuan ini mempertemukan jajaran PHDI Pusat, pengurus PHDI DIY dan Jawa Tengah, para pandita, unsur pemerintah, organisasi Hindu, serta umat.
Kedua pandita yang memimpin upacara, Ida Shri Bhagawan Dalem Acarya Mahakerti Wira Jagatmanik dan Ida Pandita Romo Wiku Satya Telaga, turut mengikuti simakrama. Hadir pula Pembimbing Masyarakat Hindu Kanwil Kementerian Agama DIY Didik Widya Putra serta Pembimbing Masyarakat Hindu Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah Eko Pujianto.

Pertemuan turut diikuti jajaran PHDI kabupaten/kota, Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN), Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), Peradah Indonesia, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), serta kelompok masyarakat Hindu lainnya. Simakrama sekaligus menjadi ajang perkenalan Pengurus Harian PHDI Pusat masa bakti 2026–2031, khususnya I Nyoman Cantiasa sebagai ketua umum, Wayan Samudra Gina Antara sebagai wakil ketua umum, dan I Nyoman Gde Agus Asrama sebagai sekretaris jenderal. Melalui pertemuan langsung tersebut, umat memperoleh kesempatan mengenal jajaran pimpinan sekaligus menyampaikan persoalan yang dihadapi di daerah.

Kekurangan Guru Agama Hindu

Salah satu isu penting yang mengemuka adalah kekurangan guru agama Hindu. Persoalan ini berkaitan dengan keberlangsungan pendidikan agama bagi peserta didik Hindu, terutama ketika jumlah siswa tersebar di berbagai sekolah dan belum seluruhnya terlayani tenaga pendidik yang memadai.
Pembahasan tersebut menempatkan pendidikan agama sebagai bagian penting dari pelayanan umat. Ketersediaan guru berpengaruh terhadap kesempatan anak-anak Hindu memahami ajaran agamanya secara terarah dan berkelanjutan.
Isu ini menunjukkan pentingnya koordinasi PHDI dengan Bimas Hindu, lembaga pendidikan, serta pemangku kepentingan terkait. Pemetaan kebutuhan guru dan kondisi pelayanan pendidikan di daerah menjadi dasar penting untuk merumuskan tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan umat.

Baca juga :   Ritual dan Perayaan Abhiseka Siwa Graha Candi Prambanan ke-6

Dialog dan Harapan Konsolidasi PHDI
Simakrama juga membahas dualisme kelembagaan PHDI yang selama beberapa tahun menjadi perhatian umat. Dinamika tersebut berkaitan dengan kepengurusan hasil Mahasabha Luar Biasa tahun 2021 yang dipimpin Ida Bagus Putu Dunia, serta kepengurusan hasil Mahasabha XII yang memperoleh pengesahan pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM dan kemudian melanjutkan estafet kepemimpinan melalui Mahasabha XIII tahun 2026. Riwayat pengesahan dan sengketa tersebut dimuat dalam publikasi resmi PHDI.

Dalam simakrama, jajaran pengurus terpilih menyampaikan bahwa komunikasi dan koordinasi telah dilakukan dengan Ida Bagus Putu Dunia. Menurut keterangan yang disampaikan, pendekatan tersebut turut membuka jalan bagi kehadirannya dalam Mahasabha XIII yang baru saja dilaksanakan di Jakarta.
Kehadiran Putu Dunia dalam forum tersebut juga tercatat dalam pemberitaan resmi PHDI pada 8 Oktober 2026. Saat pembukaan Mahasabha XIII, Wisnu Bawa Tenaya menyambut pertemuan itu dengan pesan persaudaraan serta ajakan agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan.

Komunikasi tersebut diharapkan menjadi titik terang bagi proses konsolidasi ke depan. Kehadiran dalam satu forum belum dengan sendirinya berarti seluruh persoalan kelembagaan telah selesai, tetapi membuka ruang untuk melanjutkan dialog dan membangun kembali kepercayaan.
Harapan yang mengemuka adalah agar perbedaan di tingkat organisasi tidak terus menimbulkan kebingungan dan keterbelahan di tengah umat. Pelayanan keagamaan, pendidikan, serta pembinaan masyarakat perlu tetap menjadi kepentingan bersama.

Memperkuat Ketahanan Umat
Isu lain yang dibahas adalah upaya mengurangi konversi agama melalui penguatan pembinaan dan pelayanan kepada umat Hindu. Persoalan ini menempatkan ketahanan keluarga, pendidikan agama, serta kedekatan lembaga keagamaan dengan umat sebagai perhatian penting. Pembahasan mengenai konversi juga memperlihatkan keterkaitan antara pendidikan dan keberlanjutan kehidupan beragama. Kekurangan guru, keterbatasan pembinaan, serta persoalan kelembagaan menjadi tantangan yang perlu diperhatikan secara bersama, tanpa menyederhanakan alasan perpindahan agama yang dapat berbeda pada setiap individu.

Baca juga :   Persembahyangan Purnama Kanem di Candi Prambanan Berjalan Khidmat

Dalam konteks tersebut, simakrama menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi agar PHDI semakin hadir dalam kehidupan umat, mendengarkan kebutuhan di daerah, serta memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan organisasi Hindu.
Seusai simakrama bersama umat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan rapat koordinasi antara Pengurus Harian PHDI Pusat dan pengurus PHDI DIY serta Jawa Tengah.
Melalui rangkaian ritual, simakrama, dan koordinasi tersebut, Parisudha Agung Paripurna Candi Prambanan mempertemukan penguatan spiritual dengan perhatian terhadap persoalan nyata umat. Dari Prambanan, harapan akan pelayanan yang lebih baik dan persatuan umat Hindu kembali disuarakan.

Please follow and like us:
fb-share-icon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *