Menu Close

Beginilah kalau Doktor UGM Ahli Batas Maritim Bicara tentang Fenomena hari raya Nyepi 2020

Hindujogja.com (27/03/2020) Beliau tidak pernah bermimpi untuk sampai ke gedung PBB apalagi berbicara dihadapan utusan dari berbagai Negara, namun ketekunannya dalam belajar mengantarkannya sampai ke kegedung PBB dan menjadi salah satu narasumber tentang batas wilayah antar negara. Beliau sudah menjelajah puluhan negara Asia dan Eropa baik untuk mengikuti konferensi maupun sebagai narasumber ahli tentang batas wilayah. Ketika ramai orang berbicara tentang kepulauan Natuna, Beliau juga diundang sebagai salah satu narasumber ahli di Mata Najwa untuk menjelaskan tentang Batas wilayah antar negara. Beliau adalah siswa teladan dari Bali, menyelesaikan S1 Teknik Geodesi UGM, S2 dan S3 di Negeri Kanguru Australia melalui jalur Beasiswa. Saat ini Beliau adalah Direktur Hubungan Internasional UGM, Dosen Fakultas Geodesi UGM, di dunia maya Beliau dikenal sebagai Selegram dan Youtuber Akademis, karena Beliau aktif membuat konten untuk pembelajaran online, Beliau adalah I Made Andi Arsana, PhD. Berikut tulisan Beliau tentang Nyepi dan Fenomena Corona.

I Made Andi Arsana, PhD. Dosen Fak. Geodesi UGM

NYEPI, COVID-19 DAN AMATI LELUNGAN

I Made Andi Arsana |Pembina Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM | madeandi@ugm.ac.id

Kalau Nyepi ngapain?” Pertanyaan ini sering diajukan. Jawaban standar saya adalah melaksanakan catur bratha alias menjalani empat pantangan: tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), tidak bersenang-senang (amati lelanguan) dan tidak menyalakan api atau mengumbar hawa nafsu (amati geni). Tidak pernah ada debat dengan siapapun soal Nyepi ini tapi saya yakin juga tidak banyak orang yang benar-benar memahami apa yang kami lakukan, atau lebih tepatnya apa yang kami TIDAK lakukan. Ya, namanya juga pantangan, yang kita bahas bukan yang dilakukan tapi yang TIDAK dilakukan.

Di tengah pelaksanaan Nyepi 2020, Covid-19 merebak, semua orang kaget. Banyak yang sudah terbukti mengidap dan tidak sedikit yang menemui ajalnya karena penyakit ini. Virus Corona yang masih misterius itu adalah penyebabnya. Apakah ini virus yang luar biasa ganas seperti film animasi pendek yang divisualisasi oleh makhluk menyeramkan di Bulan dan kemudian menghajar Tiongkok, Italia dan Korea Selatan (Indonesia tidak usah kita bahas di sini ya)? Apakah virus itu menyebabkan korbannya bersimbah darah dan mati dengan cara yang mengenaskan seperti di film-film Hollywood?

Virus Corona tidak semenyeramkan itu. Konon, daya rusak virus ini bahkan selevel dengan virus flu biasa. Saya bukan ahli kesehatan tetapi saya berusaha membaca dari sumber terpercaya. Yang patut diingat, Virus Corona ini jenis baru dan tubuh kita belum kenal dengan virus ini. Jika saja tubuh kita kenal, dengan mudah dia akan membentuk tameng/benteng sendiri dan virus ini akan dibasmi dengan mudah. Karena tidak dikenal, virus ini bisa masuk tubuh kita dan tubuh kita akan santai saja, tidak melakukan mekanisme pertahanan. Karena tubuh ‘lengah’ maka virus yang tidak berbahaya ini akhirnya bisa mematikan. Begitu kira-kira saya memahami Virus Corona ini.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sudah banyak yang memberitahu kita untuk “social distancing”atau “physical distancing” atau “geospatial distancing”. Ibu dan bapak saya di Desa Tegaljadi tidak akan paham maksud istilah ini jika tidak dijelaskan dengan cara sederhana. Saya sampaikan ke beliau, intinya diam di rumah, jangan ke mana-mana. “Wah, Nyepinya mendahului jadwal nih?” banyak orang Hindu di Bali yang mengatakan ini secara spontan. Salah satu tapa bratha Nyepi memang amati lelungan, tidak ke mana-mana. Ini caya yang mudah untuk menjelaskan ke Bapak Ibu saya. Ada unsur religius di situ dan mereka cukup mudah diajak melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan alasan model ini.

Andi Arsana Saat menjadi Narasumber pada orientasi Keluarga Sukinah Yogyakarta

Mengapa amati lelungan atau distancing ini penting? Penularan Virus ini melalui droplet alias tetesan cairan yang keluar dari saluran mulut dan pernafasan. Masalah utamanya, kita tidak pernah tahu apakah kita sudah kena atau belum, jika belum dites. Masalah kedua, tidak semua yang kena itu ada gejalanya. Jadi bisa saja saya atau Anda sudah kena tapi tidak tahu. Jika kita bertemu orang lain dan bersentuhan secara fisik maka sangat mungkin orang itu juga kena. Tentu bisa juga terjadi sebaliknya, kita yang tertular oleh orang lain.

Yang juga penting untuk dipahami, dampak virus ini tidak sama bagi semua orang. Mereka yang masih muda, di bawah 40 tahun, akan relatif ‘kuat’ menahan dampaknya. Yang paling rawan adalah orang tua di atas 60 tahun. Jadi, bisa saja Anda yang masih muda ini sebenarnya sudah kena virus tapi tidak merasakan dan kemudian menularkan itu ke orang tua atau kakek-nenek gara-gara tidak disiplin untuk berdiam diri dan tidak bertemu orang di luar rumah. Kita mungkin kuat dan tidak terpengaruh tapi apa tega orang tua kita sakit gara-gara kita? Pasti tidak kan? Makanya, di rumah saja. Amati lelungan!

Jika kita amati lelungan, maka risiko penularan Covid-19 jadi jauh lebih rendah. Akibatnya jumlah orang yang sakit jadi bisa ditekan. Ingat, meskipun ini bukan tergolong penyakit yang amat parah, tapi kalau yang sakit sangat banyak dan jumlahnya jauh lebih tinggi dari daya tampung rumah sakit, tetap saja fatal akibatnya. Maka, kita harus menekan jumlah penderita Covid-19 ini agar tidak melebihi daya tampung dan kapasitas rumah sakit. Jika jumlah penderita Covid-19 ini berupa kurva, maka kita harus membuat kurva-nya jadi landai, tidak tinggi dan memuncak. Bagaimana caranya? Amati lelungan! Diam di rumah.

Kalau melihat lagi tradisi Hindu di Bali, wabah memang pernah terjadi. Bli Sugi Lanus, penekun adat dan sejarah Bali dari berbagai lontar pernah mengulas hal ini. Menurut beliau, wabah dikenal dengan istilah mrana. Istilah lain yang sering saya dengar ketika kecil adalah gering agung yang bermakna penyakit menular yang hadir pada musim tertentu. Selain itu ada juga istilah grubug yang berarti penyakit yang menyebabkan kematian mendadak dan serentak. Grubung sering dipakai pada hewan ternak yang mati tiba-tiba secara serentak. Hal ini juga rupanya bisa terjadi pada manusia. Istilah lain yang juga sering terdengar adalah sasab yang berarti wabah demam menular yang mematikan. Wabah ini menular secara cepat dan tidak terkendali. Viral.

Berbagai penyakit yang pernah ditemukan di Bali ini melahirkan berbagai ilmu pengobatan alias usadha. Salah satu metode pengobatan, menurut cerita rakyat adalah tapa bratha yang dilakukan orang dengan kedigdayaan tertentu. Dengan bertapa, khusuk berdoa, orang bisa sembuh dari sakit atau mendapatkan petunjuk tentang pengobatan yang menyembuhkannya. Inti dari tapa bratha adalah pengendalian diri dan pemusatan segala pikiran dan energi kepada Sang Pencipta. Apapun itu, yang pasti, keutamaan tapa brata adalah berdiam diri, duduk tenang dan berkonsentrasi.

Lepas dari nuansa magis dan spiritual yang begitu kuat dalam tradisi Hindu di Bali, secara sederhana saya memaknai tapa bratha sebagai kunci untuk menghindarkan diri dari mara bahaya. Hal ini pernah dibahas oleh Mpu Tal dalam tulisannya di tatkala.co. Disebutkan, salah satu lontar utama dalam ajaran spiritual Hindu di Bali, Widhi Sastra Roga Sangara Gumi, yang merupakan warisan Majapahit, mengajarkan tradisi waspada (yatna) dengan cara berdiam diri di rumah. Ini juga yang menjadi salah satu butir penting dalam catur bratha penyepian sebagai bagian dari usaha pengendalian diri: Amati lelungan. Di tengah Covid-19 yang menghebat, sebuah tradisi yang hampir dua milenium umurnya seakan mendapat justifikasi kembali. Tidak hanya orang Hindu di Bali yang melakukannya, seluruh dunia melaksanakannya saat Nyepi tahun 2020 ini. Tidak hanya sehari, kita harus melakukannya dalam waktu yang lama.

Dalam sepi, ketika kita hidup dalam keterbatasan dan memegang kendali atas kerja, gerak, kesenangan dan hawa nafsu, kita bisa berintrospeksi diri. Kita tidak saja berdoa tapi juga berusaha agar terhindar dari mrana, gering agung, grubug dan sasab yang kini melanda Bumi. Mungkin kita tidak bisa menawarkan obat mujarab, setidaknya kita dengan sadar tidak menjadi jembatan bagi menjalarnya wabah kepada sesama. Maka mari kita melanjutkan Nyepi dan lakukan setidaknya satu tapa bratha: amati lelungan!

Please follow and like us:
fb-share-icon
Posted in Artikel, I Made Andi Arsana

Leave a Reply

Your email address will not be published.