Dharma Tula menyambut Hari Suci Nyepi tahun Saka 1946 – 2024 M

Dalam menyambut Hari Suci Nyepi tahun Saka 1946 (2024 M) di D.I. Yogyakarta, Panitia Nyepi merangkai acara Dharmatula dengan tema “Memayu Hayuning Bawono”. Konsep tersebut merujuk pada upaya menciptakan keindahan dalam dunia ini, sejalan dengan prinsip Tri Hita Karana yang mengajarkan harmoni antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan Tuhan (parahyangan). Pelaksanaan Memayu Hayuning Bawono melibatkan introspeksi diri, penghormatan terhadap lingkungan, dan upaya menjaga kerukunan dengan pemerintah serta antarumat beragama. Umat Hindu juga diingatkan akan pentingnya mengembangkan pengetahuan material (apara vidya) dan spiritual (paravidya) untuk meraih kesejahteraan baik di dunia maupun di alam rohani (Moksa).

Pura Podo Wenang, Kaliwaru, Kampung, Ngawen, Gununngkidul

Selain itu, dalam konteks ajaran Hindu, kebahagiaan sejati (Sac Cit Ananda) diharapkan untuk Indonesia yang jaya. Umat Hindu diarahkan untuk menjalankan kewajiban dengan baik, menjaga harmoni dengan lingkungan, serta mengembangkan kesadaran akan tujuan hidup yang lebih tinggi, yakni mencapai Moksa. Dalam pandangan Hindu, keberadaan di alam Moksa merupakan kekal, bebas dari keterbatasan usia dan penderitaan fisik, yang berbeda dengan kondisi sementara di dunia ini yang terikat oleh perubahan musim dan penderitaan silih berganti. Dengan Memayu Hayuning Bawono, umat Hindu berupaya menjaga keseimbangan mental dalam menghadapi berbagai situasi, dengan harapan dapat menciptakan kerahayuan dan kebahagiaan yang abadi, baik bagi individu maupun bagi jagad ini secara keseluruhan. Semua upaya tersebut dipandang sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan diharapkan akan mendapatkan berkah serta kemurahan-Nya.

Acara Dharma Tula 1 Diselenggarakan Tanggal 9 Februari 2024 Jam: 19.00 bertempat Pura di Wilayah Gunungkidul, Sie yang terlibat Sie Dharma Tula , Publikasi dan Acara

Dalam kesempatan tersebut, Panitia juga memberikan bingkisan untuk di setiap pura berupa Dupa, Teh dan gula pasir

 

Berikut materi lengkap Dharma wacana

MATERI DHARMA TULA MENYAMBUT HARI SUCI NYEPI 

TAHUN SAKA 1946 (2024 M) D.I. YOGYAKARTA

Para umat sedharma … Om swastyastu

Pada kesempatan yang berbahagia ini mari kita bersyukur karena atas asung kertawaranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa kita dapat berjumpa lagi. Kita berjumpa dalam rangka dharmatula yang merupakan salah satu rangkaian acara untuk menyambut hari suci Nyepi tahun Saka 1946 (2024 M).

Mengacu pada tema Nasional Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat yang berjudul SAT CIT ANANDA UNTUK INDONESIA JAYA, maka Panitia Nyepi D.I.Y memutuskan membuat Sub Tema MEMAYU HAYUNING BAWONO.

Pura Eka Bhakti, Pucung, Planjan, Saptosari, Gunungkidul

Memayu Hayuning Bawono artinya secara harfiah adalah bagaimana upaya membuat dunia ini menjadi ayu atau indah. Bahkan kata rahayu juga berasal dari ayu yang diartikan selamat. Ada dua Bawono yang di dalam agama Hindu disebut Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung (Jagad Agung) adalah Alam semesta yang terdiri dari panca mahabhuta. Panca mahabhuta adalah lima unsur atau lima elemen yaitu: (bhumi) tanah, (apo/apah) air, (nalo/teja) api, (vayu/bayu) udara dan (ether) akasa. Begitu juga dengan Bhuana Alit (Jagad Alit) atau tubuh yang disebut stula sarira adalah badan kasar kita yang terdiri dari lima unsur alam yang sama yaitu panca mahabhuta

Pura Ngesti Brata Dharma Gunung Gambar – Gunungkidul

Kata “memayu” berasal dari Bahasa Jawa. Arti kata memayu adalah suatu bentuk upaya menciptakan kondisi yang ayu atau indah untuk keselamatan jagad raya ini. Berbicara mengenai keselamatan dunia, sebenarnya sudah terimplementasikan di dalam ajaran Hindu yang disebut Tri Hita karana. Di dalam ajaran Tri Hita Karana adalah upaya yang pertama yaitu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama uwong (bhs Jawa) atau manusia yang disebut pawongan. Ke dua menjalin hubungan harmonis dengan lemah (bhs jawa) artinya tanah yang disebut palemahan yaitu dengan lingkungan (alam / dunia). Ke tiga menjalin hubungan yang harmonis dengan Hyang (Hyang Widhi) disebut parahyangan. Jadi memayu hayuning bawono juga berarti memayu hayuning uwong (manusia) itu sendiri. 

Baca juga :   Pasraman Padma Buana Yogyakarta ikuti Bhakti Sosial dan Gelar Budaya di Klaten

Pura Dharma Jati, Ngelo, Beji, Ngawen, Gunungkidul

Bagimana cara memayu hayuning Bawono alit atau memayu hayuning uwong? Tidak ada cara lain, selain ambrastho dur angkoro. Mbrastha yaitu memberantas apa yang ada di dalam diri sendiri baik rasa malas, rasa serakah, rasa tamak, rasa benci, rasa iri, dll. Hal-hal itu kita lakukan dalam catur brata penyepian. Sedangkan untuk kerahayuan Buana Agung kita laksanakan dalam rangkaian Melasti (Mekiis / Melis) yang bermakna untuk hanganyutaken laraning jagad ri telenging segoro. Langkah berikutnya untuk menjaga kerahyuan Jagad Agung kita laksanakan Tawur ke sanga, untuk menciptakan suasana yang harmonis dengan lingkungan alam. Selain itu juga ada acara Ngembak geni dan terakhir yaitu Dharmasanti untuk pembinaan Jagad Alit. Mengapa beberapa hal tersebut di atas penting kita lakukan? Karena di zaman kali ini kondisinya semrawut, banyak orang munafik. Hal ini sudah diramalkan oleh Pujangga besar dari Surakarta yaitu Raden Ngabei Rangga Warsita. Beliau menulis pupuh sinom bait ke tujuh di dalam buku yang berjudul Serat kalatidha sebagai berikut:

amenangi jaman edan /    ewuh aya ing pambudi

melu edan nora tahan /   yen tan melu anglakoni 

boya keduman melik /    kaliren wekasanipun

ndilalah kersa Allah /   beia bejane kang lali 

luwih beja kang eling lawan waspada

 

Terjemahan 

menghadapi zaman edan    keadaan menjadi serba sulit 

turut serta edan tidak tahan    apabila tidak ikut serta melakukan

akhirnya menderita kelaparan   sudah kehendak Tuhan 

betapapun bahagianya orang yang lupa 

lebih bahagia mereka yang sadar dan waspada.

Pure Derpo Kusumo Ngepoh – Gunungkidul

Dalam menghadapi kondisi seperti di atas, beruntunglah salah satu ajaran Hindu selalu mengingatkan kita untuk melaksanakan Panca Satya yaitu: satya mitra artinya setia kepada sesama teman, satya wacana = setia atau jujur pada kata-kata sendiri, satya hredaya = setia atau jujur pada kata hati, satya semaya = setia pada janji, dan satya laksana = setia terhadap apa yang harus dilakukan (memiliki wiweka) bisa memilih mana yang harus dilakukan mana yang tidak harus dilakukan. Dengan begitu kita bangkit, mengobarkan semangat berjuang untuk meraih kerahayuan, kebahagiaan, kesejahteraan di jagad ini maupun di alam Rohani (Moksa) nantinya. 

Memayu Hayuning Bawono selaras dengan tema PHDI Pusat yaitu Sac Cit Ananda Untuk Indonesia Jaya. Keduanya bermuara dari ajaran Hindu. Salah satu ajaran Hindu adalah Catur Guru yang sangat penting sebagai dasar etika. Disebutkan dalam ajaran Catur Guru salah satunya yaitu Guru Wisesa (Pemerintah). Umat Hindu berupaya membuat hubungan yang harmonis kepada Guru Wisesa dengan berbagai cara. Sebagai contoh: Umat Hindu patuh terhadap aturan dan peraturan yang berlaku di masyarakat maupun negara. Itu sebabnya umat Hindu tidak pernah berbuat yang aneh-aneh di mata Pemerintah. Umat Hindu senantiasa melaksanakan Tri Kerukunan yaitu menjaga kerukunan di dalam intern umat Hindu, menjaga kerukunan dengan umat beragama lain dan menjaga kerukunan dengan Pemerintah. Inilah upaya umat Hindu untuk mewujudkan Memayu Hayuning Bawono.

Pura Bhakti Dharma, Tegalrejo, Beji, Ngawen, Gunungkidul.

Kata sat berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya adalah kekal, kebenaran, riil, keberadaan Brahman. Namun dalam hubungan dengan negara Indonesia bisa diartikan (diharapkan) jaya untuk selamanya. Sedangkan kata jaya sendiri bisa diartikan “hidup” yang mengandung makna: aman, tentram, adil, makmur dan sejahtera. Untuk mewujudkan lima hal tersebut umat Hindu berupaya mengkualitaskan diri sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dengan menghayati ajaran Pustaka suci Bhagavad-gita umat Hindu senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan sebagaimana tertera dalam sloka berikut:

 

      sreyan dravya-mayad yajna    jnana-yajna parantapa

Baca juga :   Arti Kata Swah Swaha dan Tat Astu

sarvam karmakhilam partha   jnane parisamapyate

 

Terjemahan:

Wahai penakluk musuh, kurban suci yang dilakukan dengan pengetahuan lebih baik daripada hanya mengorbankan harta benda material. Wahai putra Prita bagaimanapun, segala kurban suci yang terdiri dari pekerjaan memuncak dalam pengetahuan Rohani. (Bg 4.33)

Pura Dharma Bhakti – Gunungkidul

Dari sloka di atas, umat Hindu berupaya mempelajari dua pengetahuan yaitu apara vidya dan paravidya. Apara Widya adalah pengetahuan untuk bekal hidup sejahtera di dunia fana ini, yang dipelajari dari sekolah TK sampai Perguruan Tinggi. Sedangkan paravidya adalah pengetahuan Rohani (spiritual) untuk meraih hidup sejahtera di alam Rohani (Moksa). Hal ini selaras dengan adagium dalam agama Hindu yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharmah yang terjemahannya adalah sukses di dunia ini dengan tidak melupakan tujuan akhir yaitu Moksa. Bagi umat Hindu Moksa bukanlah sekedar kata kiasan belaka, akan tetapi adalah suatu kenyataan yang akan dicapai (shraddha yang ke lima) dari Pancasradha. Mengapa hal itu penting? sebab di sanalah kehidupan yang sejati. Maksud kehidupan yang sejati adalah kehidupan yang tidak akan mengalami sakit, tua, dan mati. Sedangkan di dunia ini setiap orang tidak mengharapkan menjadi tua (jara), tapi usia tua tidak bisa dihindari, orang tidak mau sakit (vyadi) tapi sakit pasti datang, dan yang terakhir orang tidak mau mati (mrtyu) tapi kematian pasti menghampiri. Ini adalah hukum alam yang sudah pasti tidak bisa dibantah oleh siapapun, apapun agamanya, apapun suku bangsanya sebagaimana dinyatakan di dalam Bhagavad-gita 13.9.

Pura Bhakti Widhi, Bendo, Beji, Ngawen, Gunungkidul

Berbeda dengan keadaan di alam Moksa, di sana kita disediakan badan yang kekal (sat), penuh pengetahuan atau keinsyafan (Cit), dan penuh kebahagiaan (ananda). Badan di alam Moksa kekal karena tidak akan mengalami sakit, tua dan mati. Dengan badan itu akan merasakan kebahagiaan untuk selamanya yang dalam bahasa Bali disebut suka tan pawali duka. Barangkali kondisi seperti inilah yang diharapkan oleh PHDI Pusat dengan tema Nasional Sat Cit Ananda Untuk Indonesia Jaya di atas. Sac Cit Ananda adalah suatu kebahagiaan prima selaras dengan Memayu Hayuning Bawono. Tentu tidak akan sama persis antara kebahagiaan di dunia ini dengan kebahagiaan di alam Rohani (Moksa). Hal ini disebabkan karena di alam Rohani tidak menggunakan matahari. Sedangkan di dunia ini tanpa matahari kita tidak bisa apa-apa. Jadi keberadaan matahari sangat penting. Itulah sebabnya para ahli Kesehatan dan para dokter menganjurkan agar kita berjemur di bawah cahaya matahari untuk mendapatkan tambahan vitamin D. Akan tetapi matahari yang sama membuat usia manusia terbatas. Misalnya kita sedang ke luar kota, tidak tahu bahwa tetangga sebelah sudah melahirkan bayi. Ketika kita sudah pulang lalu bertanya kapan bayi itu lahir. Kemudian dijawab oleh ibunya bahwa bayinya lahir tiga hari yang lalu. Apa artinya tiga hari yang lalu? Itu artinya matahari melintas dari timur ke barat sebanyak tiga kali. Di lain waktu mungkin kita ke luar negeri cukup lama, begitu pulang ternyata yang dulu masih bayi sekarang sudah mulai berdiri, merambat dan belajar berjalan setapak demi setapak. Lalu kita bertanya: O yang dulu masih bayi … sekarang sudah mulai berjalan, berapa usianya bu? Ibunya menjawab: dia sekarang sudah satu tahun. Apa artinya satu tahun? Satu tahun artinya matahari melintas sebanyak tiga ratus enam puluh lima kali. Bayi yang tadinya satu tahun, berubah menjadi sepuluh tahun, dua puluh tahun, lima puluh tahun, tujuh puluh tahun, sembilan puluh tahun dan akhirnya mati karena dibatasi oleh lintasan matahari. Andaikan bayi itu bisa mencapai usia sampai seratus tahun, maka dia digilas oleh matahari yang melintas sebanyak tiga puluh enam ribu lima ratus kali. Inilah perbedaan dengan di alam Moksa yang tanpa matahari, maka usia di sana tidak terbatas karena tidak ada lintasan matahari sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita 15.6 sebagai berikut:

Baca juga :   Pembatasan Kegiatan Rumah Ibadah, Sembahyang di Rumah Saja

      na tad bhasayate suryo    na sasanko na pavakah 

yad gatva na nivartante    tad dhama paramam mama 

 

Terjemahan:

Tempat tinggal-Ku tidak diterangi oleh matahari, bulan, api maupun listrik. Orang yang mencapai tempat tinggal itu tidak pernah Kembali lagi ke dunia ini.

 

Jadi dari sloka di atas kita mengerti bahwa di dunia ini tanpa matahari, bulan, api atau listrik kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena kita membutuhkan semua itu. Tapi di alam Moksa tidak membutuhkan matahari, bulan, api maupun listrik. Itulah sebabnya badan kita yang sejati di alam Moksa kekal, karena tidak dibatasi oleh lintasan matahari. Karena tidak dibatasi matahari, maka di sana tidak ada sakit, tua dan mati, bahkan tidak kembali ke dunia ini lagi alias tidak akan mengalami reinkarnasi. itulah yang disebut suka tan pawali duka. Sedangkan di dunia ini bagaikan silih bergantinya musim panas dan musim dingin, begitulah suka dan duka akan silih berganti. Hal ini dijelaskan di dalam Bhagavad-gita 2.14 sbb:

    matra sparsatu kaunteya   sitosna-suka-dukha-dah

agama payino ‘nityas   tams titiksasva Bharata

Terjemahan

Wahai putra Kunti, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indria-indria dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, wahai keluarga Bharata.

Dari sloka ini kita mengerti bahwa di dunia ini suka dan duka silih berganti bagaikan silih bergantinya musim dingin dan musim panas. Oleh karena itu Memayu Hayuning Bawono artinya kita perlu mentolerir atau berupaya membuat mental kita seimbang dalam menghadapi suka maupun duka. Tidak seharusnya kita larut dalam kesedihan ketika duka sedang menimpa dan kita juga tidak perlu berfoya-foya ketika suka cita sedang datang. Kondisi mental seimbang seperti inilah yang disebut memperindah diri atau Memayu Hayuning Bawana Alit. Jika dunia ini dihuni oleh orang-orang seimbang dalam menghadapi suka dan duka maka akan penuh welas asih, tidak iri, dengki, benci, dendam, maka Buana Agung juga akan menjadi ayu atau indah. Jika Buana Agung menjadi ayu maka sudah barang tentu menjadi fasilitas yang nyaman untuk berbakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Buana Agung menjadi kondusif, bumi menjadi subur menumbuhkan biji-bijian karena hujan turun secara teratur.  Hujan turun karena yajna atau kurban suci dijalankan dengan baik. Yajna dilaksanakan dengan baik karena kewajiban, seperti yang sudah dan akan dilaksanakan baik di Prambanan, di Pantai Parangkusumo maupun di Gunung Kidul dan Gunung Merapi. Dengan begitu ada kerjasama yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungan sebagaimana dijelaskan dalam kutipan berikut:

annad bhavanti bhutani    parjanyad anna sambhavah

      yajnad bhavati parjanyo    yajna karma-samudbhavah

 

Terjemahan

Semua badan yang bernyawa hidup dengan memakan biji-bijian yang dihasilkan dari hujan. Hujan dihasilkan karena pelaksanaan yajna (kurban suci). Yajna dilahirkan karena tugas kewajiban yang sudah ditetapkan. (Bg 3.14)  

Demikan harapan dan upaya umat Hindu di D.I.Y dalam rangka Memayu Hayung Bawono yang terdiri dari Buana Agung dan Buana Alit akan terwujud atas waranugraha Hyang Widhi.

Ada kurang lebihnya mohon maaf, saya akhiri dengan paramasanti:

Om shanti, shanti, shanti Om

Semoga damai, damai di hati, damai di bumi dan damai selama-lamanya.

 

Please follow and like us:
fb-share-icon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *