Menu Close

Galungan : Mentradisikan Ajaran Bhakti Karma Marga

Hadirin yang saya muliakan, Perayaan Galungan hari ini Rabu Kliwon Dungulan 8
Juni 2022 secara meriah dirayakan di seluruh pelosok nusantara. Pagi ini
dalam perhitungan kalender dalam usia saya memasuki 58 tahun telah merayakan
Galungan- Kuningan sebanyak 100 kali putaran (58×360/210=100). Angka yang
lumayan besar. Pertanyaan saya kemajuan Dharma seperti apa yang sudah terjadi di
dalam diri ini?

Tentu pertanyaan ini tidak cukup diukur dengan ukuran kuantitatif 100 atau ukuran

kualitatif telah terjadi kemajuan spiritual level 100. Perlu disadari bahwa pentradisian
perayaan hari raya Galungan dimaksudkan untuk pengamalan ajaran suci Veda di
masyarakat secara kolektif di dalam sebuah sistem sosial yang dinamis. Perayaan
Galungan dimaksudkan untuk mentradisikan Ajaran Bhakti Karma Marga secara nyata
di masyarakat. Dasar ajaran Suci yang sesuai untuk Perayaan Galungan sebagai tradisi
nyata Ajaran Bhakti Yoga di dalam pelaksanaan Dharma adalah BG Bab XII Sloka 20
yang menyatakan:

Ye tu dharmyamrtam idam,
Yathoktam paryupasate,
Sraddadhana mat-parama,
Bhaktas te ‘tiva me priyah. BG XII.20

Sesungguhnya Ia yang dengan penuh keyakinan melaksanakan ajaran Dharma yang
telah diturunkan sebagai dasar-dasar kebenaran abadi dalam berkehidupan
(dharmya=hukum kebenaran, amrtam= langgeng abadi, yathoktam=sebagaimana
diajarkan), Dan menjadikan Tuhan sebagai tujuan utama (sraddhadhanah=orang
yang berkeyakinan penuh, matparama=menganggap Tuhan sebagai tujuan utama),
Bhakta seperti inilah yang paling dikasihi Tuhan dan mereka sangat kasih Kepada Ku.
(bhakta ativah priyah= penganut dharma terkasih).
Sloka ini penting dan cocok dijadikan landasan dasar pelaksanaan perayaan Hari Raya
Galungan dan Kuningan. Barang siapa yang kasih kepada Tuhan maka ia akan dikasihi
Tuhan. Ini adalah Dharma atau hukum abadi. Sebagai tradisi “Perayaan Galungan”
memberi pesan spiritual penumbuhan kesadaran yang penuh dengan keyakinan
membangun Kasih Bhakti kepada Tuhan di dalam jalan Dharma sebagai landasan
dasar berkehidupan.

Dharma adalah landasan atau dasar hidup yang ada di semesta ini. Dharma
adalah kebenaran abadi. Dharma adalah hukum-hukum kehidupan.
Secara filsafati Kebenaran Dharma itu dapat kita pegang sebagai dasar landasan
hidup jika memenuhi 4 kriteria: 1. Kriteria benar secara sensual; 2. Kriteria
benar secara logika; 3. Kriteria benar secara etik; 4. Kriteria benar secara
transendental.

Matahari terbit di timur memancarkan cahaya menerangi semesta tanpa pilih-pilih
adalah Dharma atau Kebenaran absolut. Cahayanya dapat disensing berupa warna
cahanya melalui indra mata, dapat dirasakan hangat dan panasnya dengan rasa
sentuhan melalui kulit sebagai kebenaran sensual. Hal yang logis pada pagi hari sinar
matahari terasa sejuk dan di siang hari terasa lebih panas. Dan di malam hari surya
tenggelam cendrung lebih dingin sebagai kebenaran logika. Etika penting dalam
menerima dan memanfaatkan kehadiran Matahari adalah menggunakan sesuai
kebutuhan. Menjemur diri di pagi hari, menjemur pakaian si siang hari. Malam hari
tidak menggunakan matahari. Sejuk-Panas-Dingin adalah Dharma atau Kebenaran
yang secara transendental bisa kita terima sebagai karya Tuhan. Matahari adalah
elemen Tuhan, Cahayanya adalah Tuhan sumber kehidupan.

Kesadaran diri akan hadirnya Tuhan dalam wujud cahaya Matahari yang menyentuh
kulit kita, yang membuat daun bisa melakukan fotosintesis, yang membuat jemuran
kita kering, yang membuat air menguap adalah kesadaran Dharma, kesadaran akan
kebenaran absolut. Ini adalah salah contoh bagaimana mengenali dan memahami
Dharma hingga menjadi Keyakinan atau Sradha akan kehadiran Tuhan. Sadar Tuhan
hadir melingkupi semesta termasuk mambasuh dan melindungi manusia. Kesadaran
Dharma semacam inilah yang kita bangun dalam perayaan Galungan. Orang-orang
yang tersadarkan akan kehadiran Tuhan adalah orang yang dapat dikatakan
memenangkan Dharma. Kelompok orang yang tidak sadar akan kehadiran Tuhan
adalah kelompok Adharma.

Dalam kitab Bhagavad Gita Bab XII, Sloka 1 termuat dialog awal dengan sebuah
pertanyaan dari Arjuna kepada Sri Krisna: “Manakah yang lebih baik diantara
menyembah Mu (Sri Krisna) sang Awatara maujud manusia atau menyembah yang abstrak yang kekal abadi? Pertanyaan ini penting diurai untuk
difahami di dalam menemukan kebenaran-kebenaran atas jawabannya dalam sloka-sloka berikutnya.

Makna menyembah Mu dimaksudkan menyembah Tuhan dalam dua sistem: 1. yang
murti atau maujud dalam berbagai manifestasi ciptaan Nya dialam semesta ini.
Sembah dilaksanakan melalui pengabdian kerja melayani dengan cinta kasih kepada
semua ciptaannya. 2. menyembah Tuhan yang abstrak tidak maujud menggunakan
berbagai simbol-simbol yantra.

Jawaban Sri Krisna dalam sloka 2 diawali dengan penjelasan prinsip dasar Bhakti:
Bhakti harus didasari Sraddhaya Parayopetas atau keyakinan tertinggi akan ada
dan hadirnya Tuhan. Keyakinan tertinggi ini harus melekat dan terpaku pada pikiran.
Pikiran terlelap dalam sembah bhakti kepada Tuhan. Bhakta seperti ini dianggap
terbaik dalam pelaksanaan yoga. Bagaimanakah Sraddaya parayopetas itu bisa ada
dalam pikiran seorang Bhakta? Sraddaya atau keyakinan utama itu dasarnya adalah
pemahaman akan jnana atau pengetahuan kerokhanian dan vijnana pengetahuan
akan dunia material atau Paravidya dan Aparavidya. Jnana-Vijnana itu mencakup
pemahaman mistik ajaran Raja Vidya Rajaguhya Yoga (Bab IX), Vibhuti Yoga
(Bab X), Visvarupa Darsana Yoga (Bab XI). Pandangan praktyaksam anumanah
agama pramanam akan keberadaan dan hadirnya Tuhan dalam berbagai ciptaan Nya
(visvarupa). Energi zat Tuhan meresap (vibhuti) di dalam seluruh ciptaannya. Tuhan
sebagai sumber energi semesta alam yang menghidupi seluruh ciptaannya. Tuhan
sebagai energi Adhidaiva meresap masuk kedalam seluruh fisik material Adibutha alam
semesta. Disinilah rahasianya kehidupan yang paling rahasia atau Raja vidya
Rajaguhya Yoga. Tuhan hadir maujud dalam berbagai Rupa mulai yang paling
menyeramkan, memusnahka hingga wujud yang paling indah melindungi.
Sloka 3-4 kemudian menjelaskan bahwa bhakta atau penyembah yang sampai kepada
Tuhan adalah bhakta yang punya keyakinan yang mantap menjalankan bhakti melalui
tindakan kerja. Bhakti lebih dari sekedar mencakupkan tangan dalam sembah puja
bhakti. Bhakti sudah berkembang dalam tindakan seva atau pelayanan kepada
sesama. Pelayanan kepada seluruh ciptaanNya atas dasar keyakinan suci bahwa semua isi alam semesta ini adalah percikan beliau. Bhakti dijalankan melalui sikap
karma sama terhadap sesama. Menjadi bhakta yang sudah mampu mengendalikan
Indria-indrianya dengan baik dan Pikiran sebagai Indra ke enam lelap dalam sembah
bhakti Tuhan yang tak berujud melalui semua ciptaanNya yang maujud.
Sloka 5 menyatakan keterbatasan manusia ada pada keterikatannya pada badan.
Bhakta yang seperti ini memiliki banyak kesulitan. Ia sangat sulit melakukan sembah
bhakti yang sampai kepada Tuhan pencipta.

Sloka 6-7: menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa Bhakta penyembah yang senantiasa
diselamatkan Tuhan adalah bhakta yang senantiasa memusatkan pikirannya kepada
Tuhan. Menyembah Tuhan dalam seluruh tindakan kerja. Menjalankan bhakti marga
dalam karma marga. Menjalankan Karma dengan penuh bhakti. Menjalankan karma
dengan cinta kasih, ketulusan dan sradda mendalam. Seorang bhakta telah melepas
keterikatannya pada alam duniawi. Bhakta seperti ini lelap dalam karma bhakti karena
Kesadaran bahwa Tuhan meresap pada semua ciptaannya.

Sloka 8 menuntun kesadaran penempatan Pikiran sebagai indra ke enam hanya
kepada Tuhan. Dilakukan dengan keyakinan penuh tanpa keraguan sama sekali.
Sloka 9 memberi petunjuk bagaimana melakukan meditasi melelapkan pikiran kepada
Tuhan sebagai Yoga. Jika jalan meditasi tidak sanggup dilakukan maka lakukanlah
tindakan karma sebagai bhakti (sloka 10). Berbhakti melalui tindakan Karma. Tindakan
karma yang bebas dari keterikatan-keterikatan duniawi (sloka 11). Melepaskan diri
dari keterikatan akan hasil perbuatan adalah kemuliaan dan kedamaiansejati di atas
Meditasi. Bhakti itu adalah kebebasan dari rasa benci terhadap sesama mahluk,
bersahabat dengan semua, penuh welas asih, bebas dari keakuan dan rasa
kepemilikan; sama seimbang dalam suka dan duka, penuh ketabahan, mudah
memaafkan, selalu puas akan apa saja yang diraih, dan senantiasa mengenang,
memikirkan Tuhan selalu. (Sloka 13-14)

Sangat Jelas bhakti yang sempurna adalah bhakti dalam tindakan kerja atas kesadaran
utuh bahwa Tuhan meresap pada semua ciptaanNya. Tindakan memelihara hewan,
menanam dan merawat pepohonan dll semuanya dijalankan sebagai bhakti kasih dan
sayang. Jika semua kerja kita sudah dilandasi bhakti kasih dan sayang maka hasil pasti datang. Sama sekali tidak perlu diharap-harap. Bhakta seperti ini adalah orang yang
telah Amor Ing Acintya dalam hidup.

Perayaan Hari Raya Galungan adalah prosesi membangun rasa syukur yang mendalam
setelah menerima (nampa) anugrah suci pada penampahan sebagai akibat
kesungguhan pikiran mendekat kepada Tuhan pada hari penyajaan.

Namaskar
Salam Santim Rccahati
Prof. Dr. Putu Panji Sudira

 

Please follow and like us:
fb-share-icon
Posted in Artikel, Ki Panji

Leave a Reply

Your email address will not be published.